Tuti Haryati

Saya Tuti Haryati, lahir di Jakarta, 16 April 1975. Pemerhati inklusi yang selalu melayani dengan hati, memiliki hobi membaca dan menulis. Pemerhati ini menyele...

Selengkapnya
Haruskah Orang Tua Terlibat?

Haruskah Orang Tua Terlibat?

Seruan membaca merupakan kunci utama manusia memahami misteri kehidupan dan menyelami kebesaran maha pencipta, Allah azza wa jalla. Selepas menerima wahyu, Muhammad menyebarkan Islam pada seluruh Arabian. Kemudian oleh pengikutnya menyebarkan Islam keberbagai dunia hingga Islam menjadi agama yang terbesar dengan penganut 1,6 milyar di seluruh dunia. Semua bermula dari seruan membaca Iqro’ bacalah!.

Menurut penulis, Gerakan Literasi Sekolah merupakan salah satu bentuk dari program Pengembangan Budi Pekerti sebagaimana yang diatur oleh Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Bentuk-bentuk GLS yang dapat dilakukan di sekolah antara lain; pembiasaan membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, tantangan membaca (reading challenge), pengadaan sudut baca di tiap kelas, melengkapi buku-buku koleksi perpustakaan, optimalisasi majalah dinding sebagai sarana untuk memajang karya tulis siswa, mengadakan lomba-lomba yang berkaitan dengan literasi, dan lain sebagainya.

Bagaimana peran keluarga terutama orang tua?. Pada tulisan ini, Saya ingin menyoroti peran orang tua sebagai salah satu unsur warga sekolah dalam mengembangkan budaya literasi. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Dalam konteks pendidikan, keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Misalnya, seorang ibu membacakan dongeng sebelum tidur kepada anaknya. Atau, budaya membaca koran di pagi hari sambil menikmati secangkir teh atau kopi, dilengkapi dengan makanan kecil, betapa nikmatnya.

Untuk mengoptimalkan peran orang tua dalam GLS, maka orang tua pun harus mendapatkan sosialisasi tentang GLS. Orang tua dipersiapkan untuk menjadi pelopor GLS di rumahnya. Misalnya, dengan memberikan contoh kepada anak-anaknya untuk rajin membaca, memiliki minat yang tinggi dalam mengoleksi buku-buku, menyediakan buku-buku bacaan bagi anak-anaknya, menyediakan waktu untuk membaca dan berdiskusi bersama, membawa anak-anaknya untuk mengunjungi perpustakaan dan toko buku, melakukan kegiatan bersama dengan sekolah atau kelompok masyarakat dalam kegiatan literasi, dan lain sebagainya.

Bagi orang tua yang berpendidikan relatif tinggi, mungkin hal tersebut tidak terlalu sulit dilakukan, tetapi bagi orang tua yang berpendidikan relatif rendah, hal tersebut mungkin sulit dilakukan dengan berbagai alasan. Jangankan mengampanyekan GLS, mendengar kata literasi saja mungkin mereka belum pernah. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi sasaran yang perlu diperhatikan pemerintah dalam mensosialisasikan dan mengkampanyekan GLS.

Selama ini, gaung literasi hanya ramai di sekolah dan di kampus, sementara di lingkungan keluarga hampir tidak terdengar. Urusan literasi identik dengan urusan akademisi dan guru di sekolah, padahal literasi merupakan urusan semua elemen yang terkait dengan pendidikan, termasuk orang tua. Intinya, peran orang tua harus dikuatkan dalam menyukseskan gerakan literasi (Idris Apandi, widyaiswara LPMP Jawa Barat; pegiat literasi)

Dalam hal ini, budaya literasi yang tengah buming itu sangatlah strategis sebagai sarana pembelajaran utama dalam keluarga, yaitu pembelajaran yang berkaitan tingkah laku, abad bergaul, dan lain sebagainya. Namun yang perlu digaris bawahi, semua anggota keluarga harus bersama-sama untuk memberdayakan budaya tersebut. Jika salah satu di antara anggota keluarga tidak berliterasi, maka akan menghambat seseorang berkeinginan membangun budaya literasi.

Kesadaran berliterasi keluarga haruslah mendapatkan perhatian khusus. Tidak pun sadar, tapi terlebihlah dulu peka dan tanggap pentingnya berliterasi. Hakikatnya, literasi dalam lingkungan keluarga untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan seorang anak. Pendukung penciptaan gerakan literasi, seorang ibu yang jangkauannya paling dekat dengan anak harus berperan aktif. (Hidayatullah.com)

Sekolah perlu menunjukkan ketulusan kepada orangtua bahwa mereka benar-benar peduli dengan kemajuan anak. Di masa awal sekolah membangun hubungan dengan orangtua tentunya sangat menantang dan tingkat keikutsertaan rendah. Tapi setelah tercapai kepercayaan itu, orangtua kemudian mau terlibat dan semua tertuju pada satu arah: kemajuan anak.

Dua tahun lalu penulis berkunjung ke Singapura. Inspiratif pendampingan dalam membaca perlu ditiru. Program ini dinamakan Parents in Education (PIE), program ini yang menaungi keberadaan Parents Support Group. Tujuan program ini yaitu: 1) Orangtua dan sekolah memiliki visi dan filosofi yang sama dalam pendidikan anak; 2) Membentuk lingkungan belajar yang kondusif; 3) Mempromosikan pentingnya komitmen keterlibatan orangtua; 4) Mempromosikan komunikasi yang terbuka; 5) Mempromosikan manfaat keaktifan orangtua.

Sangat jelas terhadap hasil yang diharapkan dari program ini adalah: 1) Komunikasi lancar dan hubungan yang erat; 2) Belajar dan tumbuh bersama; 3) Semangat kerelawanan.Riset menunjukkan anak memiliki prestasi yang lebih baik jika orangtuanya terlibat dalam program-program yang diadakan sekolah.

Parents in Education ini memiliki struktur organisasi yang cukup baik dan komunikasi dilakukan dengan channel digital yang ada: email, whatsapp, pertemuan singkat, sarapan bersama, dan lain-lain. Sangat fantatstis ketika pemerintah memberikan dana sebesar $2500 per tahun untuk kegiatan PIE, dana digunakan untuk kegiatan sekolah dan orangtua. http://keluargakita.com.singapure

Untuk itu, dalam mewujudkan keselarasan dibutuhan kesadaran diri, terutama dari unit terkecil kehidupan, yaitu keluarga. Keluarga literasi adalah keluarga yang siap mengantarkan menuju perubahan besar bagi diri anak-anak kita. Literasi anak adalah salah satu energi masa depan yang cendekia. Dari sisilah akan muncul cendekia-cendekian yang berbudaya baca dalam mencapai cita-cita yang gemilang.

Pembiasaan yang dimunculkan yang penulis harapan, agar di setiap keluarga siap menyajalankan program GLS, akan terwujud satu anak satu buku karya terbaik dari anak-anak kita. Ditargetkan bahwa setiap anak mampu mencetak satu buku sebagai hasil seleksi tulisan terbaik anak dalam upaya berlomba-lomba dalam keluarga bisa menulis buku. Pembudayaan membaca saja membutuhkan tenaga dan biaya yang besar, apalagi pembudayaan menulis. Perlu ada pendampingan praktis yang secara cepat mampu membuat anak-anak kita membaca dan menulis secara menyenangkan.

Terobosan penting ini sudah melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS. Dengan demikian, pencerdasan bangsa menjadi tanggungjawab bersama, bukan hanya sekolah melainkan juga pemerintah, orangtua, dan lembaga swasta.

Tulungagung, 15 April 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali